ILMU BUDAYA DASAR: BAB 2. MANUSIA DAN CINTA KASIH
MAKALAH MANUSIA DAN CINTA KASIH
DISUSUN OLEH :
FITRIA DESWITA
1EA21/10221801
DOSEN PENGAMPU :
Ibu Wuri Purnamasari
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa. atas rahmat dan hidayah-Nya, penulis bisa menyelesaikan makalah yang berjudul "Manusia dan Cinta Kasih" dengan tepat waktu. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Ilmu Budaya Dasar. Selain itu, makalah ini bertujuan menambah wawasan tentang ilmu budaya secara luas. Tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Wuri Purnamasari selaku dosen pengampu Ilmu Budaya. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada semua pihak yang telah membantu diselesaikannya makalah ini.
Penulis menyadari pasti ada banyak kekurangan pada makalah ini. Oleh sebab itu, saran dan kritik senantiasa diharapkan demi perbaikan karya penulis. Penulis juga berharap semoga makalah yang sederhana ini mampu memberikan pengetahuan tentang apa itu cinta dalam artian luas
Tangerang, 12 Oktober 2021
Penulis
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di dunia ini setiap insan pastinya membutuhkan cinta, baik itu cinta untuk keluarga, cinta untuk Tuhan, dan cinta untuk pasangan. Tuhan selalu memberikan cinta untuk para insannya. Karena sejatinya, di dalam diri kita selalu ada cinta.
Menurut Aristoteles (384-322 SM), cinta merupakan kekuatan yang penggerak yang tak tergerakkan (Tuhan) sebagai yang dicintai dan sistem planet sebagai pencinta. Cinta juga bisa disebut suatu perasaan kasih sayang yang merupakan fitrah manusia dan juga karunia-Nya dalam penciptaan alam semesta. Cinta pada hakikatnya sulit untuk dijelaskan, karena terlalu abu-abu apa itu cinta sebenarnya. Cinta melambangkan rasa kasih sayang yang mendalam dan hanya bisa dirasakan oleh orang itu sendiri serta orang yang menjadi pusat cintanya. Dalam kehidupan manusia, cinta mempunyai peran yang sangat besar, sebab cinta merupakan dasar atau landasan yang membentuk sebuah perkawinan, keluarga dan hubungan yang erat dimasyarakat serta hubungan manusiawi yang akrab.
Melalui makalah ini akan dijelaskan secara terperinci tentang apa saja unsur-unsur cinta, tingkatan cinta dan bagaimana agama memandang cinta. ruang lingkup apa saja yang masuk ke dalam ilmu budaya dan juga apa arti kebudayaan itu sendiri.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa saja unsur-unsur cinta?
2. Apa saja tingkatan cinta?
3. Bagaimana agama memandang cinta?
1.3 Tujuan
- Untuk memahami cinta secara luas
- Dapat mengetahui apa saja unsur dan tingkatan cinta
- Dapat melihat pandangan agama terhadap cinta
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Unsur - Unsur Cinta
Dr. Sarlito W. Sarwono mengatakan bahwa cinta memiliki tiga
unsur, yaitu keterikatan, keintiman, dan kemesraan. Maksud dari keterikatan
adalah adanya perasaan yang mengikat antara satu individu dengan individu lain
dengan perwujudan hak untuk bersama, memprioritaskan apa yang penting baginya,
dan memiliki janji yang harus ditepati. Lalu keintiman adalah kebiasaan atau
perilaku yang menunjukan bahwa ada sebuah kasih sayang di antara kedua insan.
Keintiman biasanya terlihat dan dapat dirasakan secara langsung, contohnya
adalah makan sepiring berdua. Tapi selain itu juga ada yang tidak bisa
dirasakan tapi cukup tersamapikan, seperti dengan panggilan-panggilan yang
biasanya hanya sekedar memanggil nama tapi berubah menjadi sebutan yang lebih special.
Yang terakhir adalah kemesraan, yaitu adanya rasa ingin memberi afeksi terhadap
seseorang yang ingin disayangi. Afeksi tersebut merupakan sebuah ungkapan
tersirat dari perasaan seseorang yang mungkin saja susah untuk menyampaikannya
dengan sebuah kata-kata.
2.2 Tingkatan Cinta
Cinta tentunya punya beberapa tingkatan, yaitu:
a. Tingkat tertinggi adalah cinta kepada Allah, Rasulullah, dan
berjihad dijalan Allah. Cinta ini merupakan mutlak yang harus dimiliki,
khususnya para muslim.
b. Cinta tingkat menengah adalah cinta kepada orang tua, anak,
suami atau istri, saudara dan kerabat (antar manusia). Cinta ini juga merupakan
keharusan. Karena cinta dengan keluarga merupakan sebuah benang yang tidak
boleh putus sampai kapanpun.
c. Cinta tingkat terendah adalah cinta yang lebih mengutamakan harta,
dan tempat tinggal (dunia). Maksudnya cinta yang paling keji, hina dan merusak
rasa kemanusiaan. Bentuknya beraneka ragam.
2.3 Cinta Menurut Ajaran Agama
Ada beberapa orang yang berpendapat bahwa cinta dapat
dipahami dengan mudah tanpa dikaitkan dengan agama, tetapi kenyataannya dengan
ada keterkaitannya agama dapat memberikan ajaran cinta yang sebenarnya kepada
manusia. Dalam kehidupan manusia cinta, diri memiliki berbagai bentuk. Ada yang
mencintai dirinya sendiri, adapula yang mencintai orang lain atau juga istri,
anak, atau hartanya. Dan juga adapula mencintai Allah dan Rasulnya. Berbagai
bentuk cinta ini bisa kita dapatkan dalam kitab suci al-Qur’an.
a. Cinta diri
Maksud dari mencintai diri itu adalah dengan cara kita
menghargai apa yang telah diberikan Tuhan untuk kita. Dalam QS. Al-‘Adiyat
(100:8), hendaknya cinta manusia pada dirinya tidak lah terlalu
berlebih-lebihan dan melewati batas. Sepatutnya cinta pada diri sendiri ini
diimbangi dengan cinta pada orang lain dan cinta berbuat kebajikan kepada
mereka.
b. Cinta kepada sesama manusia
Selain mencintai diri sendiri, kita juga harus mencintai
kepada sesame manusia agar hidup dengan penuh keserasian dan keharmonisan.
Dalam Al-Qura’an juga menyeru kepada orang-orang yang beriman agar saling
mencintai sesama manusia sama seperti cinta mereka pada diri mereka sendiri.
c. Cinta seksual
Cinta erat kaitanya dengan dorongan dan hasrat seksual.
Sebab ialah yang bekerja dalam melestarikan kasih sayang, keserasian, dan kerja
sama anatar suami dan istri. Ia merupakan faktor primer bagi kelangsungan hidup
keluarga.
d. Cinta kepada orang tua
Cinta kepada ibu-bapak dalam ajaran agama Islam sangat
mendasar, menentukan ridha tidaknya Tuhan kepada manusia. Sabda Nabi Muhammad
SAW : “Keridhaan Allah bergantung pada keridhaan kedua orang tua, dan kemurkaan
Allah bergantung pada kemurkaan kedua orang tua pula” (HR. At-Turmudzy).
e. Cinta kepada Allah
Puncak cinta manusia yang paling mutlak, jernih dan spritual
ialah hanya cintanya kepada Allah dan kerinduannya kepada-Nya. Tidak hanya
dalam shalat, pujian, dan doanya saja, cinta yang ikhlas seorang manusia kepada
allah akan membuat cinta itu menjadi kekuatan pendorong yang mengarahkanya
dalam kehidupannya dan menundukan semua bentuk kecintaan lainnya.
f. Cinta kepada Rasul
Cinta kepada Rasul merupakan sebuah pelengkap selain kita
mencintai Allh. Ini karena rosul merupakan ideal sempurna bagi manusia baik
dalam tingkah laku, moral, maupun berbagi sifat luhur lainya.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
Penulis menyadari pasti ada banyak kekurangan pada makalah ini. Oleh sebab itu, saran dan kritik senantiasa diharapkan demi perbaikan karya penulis. Penulis juga berharap semoga makalah yang sederhana ini mampu memberikan pengetahuan tentang arti cinta dan kasih secara luas.
Penulis menyadari pasti ada banyak kekurangan pada makalah ini. Oleh sebab itu, saran dan kritik senantiasa diharapkan demi perbaikan karya penulis. Penulis juga berharap semoga makalah yang sederhana ini mampu memberikan pengetahuan tentang arti cinta dan kasih secara luas.
DAFTAR PUSTAKA
achmadsuaedis.
(2017, Maret 15). MANUSIA DAN CINTA KASIH. Retrieved from wordpress.com:
https://achmadsuaediblog.wordpress.com/2017/03/15/manusia-dan-cinta-kasih/
ksanteguhpramono. (2015, April 12). 3 UNSUR CINTA
KASIH. Retrieved from wordpress.com:
https://iksanteguhpramono.wordpress.com/2015/04/12/tugas-ibd-3-unsur-cinta-kasih/
Irdianto, Y.
(2013, Maret 28). Cinta Menurut Ajaran Agama. Retrieved from
wordpress.com:
https://yanuirdianto.wordpress.com/2013/03/28/cinta-menurut-ajaran-agama/
Comments
Post a Comment